• EKSEKUTIF

Menko PM: Sekolah Rakyat Jadi Tumpuan Utama Memutus Kemiskinan

Vaza Diva Fadhilah Akbar | Rabu, 29 Apr 2026 12:28 WIB
Menko PM: Sekolah Rakyat Jadi Tumpuan Utama Memutus Kemiskinan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar memberikan sambutan pada acara 1 Tahun Perjalanan Sekolah Rakyat di Jakarta (Foto: Vaza/Indonesiainfo.id)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Pemerintah memperingati satu tahun perjalanan Program Sekolah Rakyat sebagai inisiatif strategis untuk menanggulangi kemiskinan ekstrem di Indonesia.

Program yang digagas berdasarkan visi Presiden ini telah beroperasi di 166 titik pada 34 provinsi dengan menyasar belasan ribu siswa dari keluarga prasejahtera.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, menilai program ini sebagai tumpuan utama dalam memutus mata rantai kemiskinan secara tepat sasaran.

Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar duplikasi program pendidikan biasa, melainkan sebuah perubahan skenario besar dalam politik anggaran APBN agar berdampak langsung kepada masyarakat bawah.

"Sekolah Rakyat adalah visi untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan secara cepat, langsung, dan tetap sasaran. Ini menjadi bagian strategis yang diperintahkan oleh Bapak Presiden agar anggaran benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan." ujar Menko PM pada Rabu (29/4) di Jakarta.

Menko Muhaimin menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan dunia kerja.

Ia mendorong agar seluruh perguruan tinggi besar di Indonesia terlibat dalam membangun ekosistem yang menghubungkan lulusan Sekolah Rakyat dengan pasar kerja, dunia usaha, dan profesi strategis.

"Lulusan Sekolah Rakyat harus menjadi agen pemberdayaan. Siswa berbakat diberi akses memadai, yang berkapasitas ilmuwan disalurkan dengan baik, dan yang mengambil profesi penting disiapkan dengan sempurna agar terhubung langsung dengan pasar kerja," kata Menko Muhaimin

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus untuk menjangkau mereka yang selama ini tidak terlihat (the invisible people).

Program ini menggunakan pendekatan multi-entry dan multi-exit, di mana anak-anak usia sekolah dapat masuk kapan saja tanpa melalui tes akademik yang kaku.

"Sekolah Rakyat kita rancang sebagai upaya untuk memotong mata rantai kemiskinan. Biasanya anak orang miskin, anaknya miskin. Kita harus berani merubah, kita tidak boleh menyerah pada keadaan," kata Mensos.

Gus Ipul, sapaan akrab Mensos, menyebut program ini sebagai miniatur pengentasan kemiskinan yang komprehensif.

Pola penanganannya melibatkan intervensi menyeluruh, mulai dari pendidikan anak, pemberdayaan ekonomi orang tua melalui pemberdayaan sosial, hingga perbaikan hunian yang tidak layak.

"Nanti anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan, dan muaranya anaknya lulus sekolah, keluarganya naik kelas. Ini adalah miniatur daripada pengentasan kemiskinan," ucap Mensos.

Berdasarkan data evaluasi satu tahun, program ini menunjukkan dampak positif pada aspek kesehatan dan karakter siswa.

Sebanyak 50 persen siswa yang awalnya mengalami masalah stunting dan anemia menunjukkan perbaikan kebugaran fisik setelah mendapatkan asupan nutrisi teratur selama proses pembelajaran.

"Anak yang sehat memiliki kesempatan untuk belajar yang lebih baik. Perubahan mental karakter juga terlihat; anak-anak menjadi lebih disiplin, percaya diri, dan mandiri dalam kehidupan sehari-hari," tambah Mensos.

Saat ini, pemerintah tengah mengawal pembangunan 93 gedung permanen Sekolah Rakyat melalui Kementerian PU yang ditargetkan fungsional pada Juli mendatang.

Langkah ini dilakukan guna memastikan keberlanjutan program dalam menjangkau lebih banyak anak putus sekolah di berbagai wilayah Indonesia.

"Kunci memahami Sekolah Rakyat adalah upaya negara menjangkau yang belum terjangkau dan memungkinkan yang tidak mungkin sesuai arahan Presiden," ujar Gus Ipul.