Petani gambir sedang menjamur gambir sebelum diekspor ke Asia Selatan (Foto: Biro Humas Kementerian UMKM)
Jakarta, Indonesiainfo.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong percepatan hilirisasi komoditas gambir di Sumatera Barat (Sumbar) dengan memanfaatkan teknologi modern agar produksi lebih berkelanjutan.
"Pemanfaatan teknologi produksi untuk mendukung hilirisasi komoditas gambir bagi usaha kecil," ujar Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, dalam kegiatan daring di Padang, pada Rabu (27/8).
Menurut Temmy, posisi petani gambir masih lemah akibat sistem perdagangan yang tradisional serta ketergantungan besar pada pasar India sebagai pembeli utama.
"Hilirisasi sangat penting agar gambir tidak hanya menjadi komoditas dagang, tetapi juga komoditas industri bernilai tinggi," tegasnya.
Indonesia saat ini menguasai sekitar 80 persen pangsa pasar gambir global dengan rata-rata pertumbuhan ekspor 16,16 persen per tahun pada periode 2019–2023. Namun, mayoritas produk gambir masih dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambahnya rendah dan harga sering berfluktuasi.
Sumbar sebagai daerah penghasil gambir terbesar dinilai memiliki prospek besar dalam pengembangan produk hilir. Akan tetapi, langkah tersebut membutuhkan sinergi berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi petani, maupun pelaku usaha.
Temmy menambahkan, pasar produk hilirisasi masih menghadapi hambatan, khususnya keterbatasan informasi dalam rantai nilai. Karena itu, pengembangan akses pasar perlu diperluas, tidak hanya mengandalkan ekspor, tetapi juga menyasar konsumen domestik.
"Ke depan penting untuk memetakan klaster industri dalam negeri yang membutuhkan produk hilirisasi gambir serta menyusun skema kebijakan untuk intervensi pasar produk hilir," katanya.
Ia menegaskan, hilirisasi menjadi bagian dari program prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029. Program ini tidak hanya berlaku pada sektor mineral, tetapi juga pada bidang pertanian dan perkebunan, sehingga membuka ruang besar bagi keterlibatan UMKM. (ANT)