• EKSEKUTIF

Kembangkan Usaha, 164 Startup Ikut EFF 2024

M. Habib Saifullah | Jum'at, 26 Jul 2024 10:09 WIB
Kembangkan Usaha, 164 Startup Ikut EFF 2024 Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah, 164 wirausaha dan startup ikuti program Entrepreneur Financial Fiesta (EFF) 2024 (Foto: Dok. Humas Kemenkop UKM)

INDONESIAINFO.ID - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menjaring 164 wirausaha dan startup untuk mengikuti tahap awal program Entrepreneur Financial Fiesta (EFF) 2024.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah mengatakan, EFF merupakan salah satu upaya strategis dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan wirausaha dan startup di Indonesia.

"Saya mengapresiasi acara launching EFF serta kehadiran dari venture capital atas upayanya untuk bersama-sama, memberikan akselerasi dalam mendorong perubahan positif untuk wirausaha dan startup," kata Siti, dikutip dari siaran pers, Jumat (26/7/2024).

EFF merupakan program akselerasi pembiayaan wirausaha dan startup berbasis ekosistem, dengan menghubungkannya ke lembaga keuangan skala nasional maupun global.

Kegiatan ini, merupakan bagian dari serangkaian tahapan Program EFF 2024 memberikan peluang bagi investor, wirausaha, dan startup untuk berkumpul, bertukar ide, dan mencari peluang baru untuk berkolaborasi.

Siti Azizah mengatakan, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang bagi startup untuk menunjukkan inovasi dan kapabilitas mereka, tetapi juga menjadi sarana penting untuk mengakselerasi akses pembiayaan wirausaha dan startup dengan tujuan mengakseslerasi pertumbuhan bisnis.

Berdasarkan riset OJK pada tahun 2022, sebesar Rp1,519 triliun atau 55,43 persen dari total kebutuhan pembiayaan wirausaha belum dapat dipenuhi oleh perbankan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pembiayaan wirausaha Indonesia masih besar.

"Namun, kita juga harus mengakui bahwa di balik potensi, ada tantangan yang perlu diatasi," kata Siti.

"Banyak dari startup kita berjuang dengan tantangan pasar dan kurangnya dukungan finansial. Pembiayaan, terutama pada early stage dan growthstage, seringkali menjadi batu sandungan besar bagi mereka," ujar dia.

Khusunya pada early-stage, startup akan kesulitan dalam membuktikan model bisnisnya sebagai unit ekonomi yang berkelanjutan, dikarenakan lembaga pembiayaan cenderung fokus kepada startup yang sudah bertumbuh dan memiliki profitability path.

"Pembiayaan konvensional, sayangnya, seringkali tidak bisa memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh para startup kita. Sulitnya akses dan keterbatasan penyaluran dana menjadi hambatan yang harus kita atasi bersama," ucap Siti Azizah.

Itulah sebabnya, KemenKopUKM berkolaborasi dengan Security Crowdfunding (SCF),Fintech, dan venture capital. Kolaborasi ini bukan hanya tentang memberikan solusi finansial, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan inovasi.

"Melalui inisiatif seperti ini, kami bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi wirausaha dan startup, sebagaimana target Presiden agar tercapai 4 persen rasio wirausaha Indonesia," ujar Siti.

Sementara itu, Asisten Deputi Pembiayaan Wirausaha dan Pengelolaan Jabatan Fungsional Pengembang Kewirausahaan KemenKopUKM Edhi Kusdiyarwoko mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani wirausaha dan startup dengan lembaga pembiayaan, serta investor yang diawali dengan pembekalan mengenai kondisi makro dan mikro.

Edhi menyampaikan, dari 500 startup yang mendaftar ke plattform eff.kemenkop.go.id, menghasilkan 164 startup yang lolos kurasi awal.

Setelah proses ini kegiatan selanjutnya adalah business coaching agar startup dapat memberikan pitching yang baik sehingga mendapatkan pendanaan dari venture capital.

"Total kebutuhan pembiayaan sebesar Rp4,09 miliar, dan kebutuhan investasi sebesar Rp87,6 miliar," kata Edhi.