• EKSEKUTIF

Kemenag Tekankan Pentingnya Komunikasi Lintas Agama untuk Mencegah Konflik

Vaza Diva Fadhilah Akbar | Rabu, 06 Agu 2025 13:10 WIB
Kemenag Tekankan Pentingnya Komunikasi Lintas Agama untuk Mencegah Konflik Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin (Foto: kemenag)

Jakarta, Indonesiainfo.id - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) baru saja menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) yang diselenggarakan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama di Jakarta, pada Rabu (6/8).

Dalam acara tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menekankan bahwa banyak ketegangan sosial yang muncul bukan disebabkan oleh perbedaan keyakinan, melainkan karena kurangnya ruang dialog dan miskomunikasi antar kelompok.

“Izinkan saya menekankan kembali bahwa komunikasi terbuka lintas agama adalah instrumen paling penting dalam mencegah konflik sosial yang berkaitan dengan pendirian rumah ibadah,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin.

Ia menjelaskan bahwa rumah ibadah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat spiritualitas yang sangat bermakna bagi setiap komunitas. Proses pendiriannya, menurutnya, harus dilakukan secara inklusif dengan melibatkan masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah.

Acara ini dibuka oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, yang menekankan pentingnya spiritualitas kebangsaan sebagai pendorong persatuan bangsa.

Selain itu, berbagai tokoh agama dan pejabat pemerintah hadir untuk memperkuat pesan kebersamaan dan rekonsiliasi, termasuk Irjen Pol. Ahmad Nur Wahid, Bahtiar Baharuddin, dan Cecep Agus Supriyanta.

Sekretaris Jenderal Kemenag juga mengingatkan bahwa komunikasi lintas iman harus menjadi sistem yang terus berkembang. Kemenag, melalui program Early Warning System (EWS), berupaya memperkuat relasi sosial antarumat beragama sebagai langkah preventif dalam menghadapi potensi konflik.

Kementerian Agama juga meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang bertujuan menanamkan nilai-nilai empati, kasih sayang, dan toleransi sejak dini, untuk menciptakan generasi yang lebih humanistik. Dialog dan kerja sama yang terus dipelihara antar tokoh agama diharapkan dapat memperkuat kerukunan antar umat beragama di Indonesia.